Minggu pagi berbeda dari minggu-minggu sebelumnya, kali ini aku lewati dengan membersihkan halaman rumahku yang mulai tertutupi dedaunan yang gugur akibat angin kencang semalam.
Pagi ini aku heran kenapa ada mobil
bak lengkap dengan perabotan rumah berhenti tepat di depan rumahku. Aku
berfikir mungkin ada tetangga baru yang akan menempati rumah kosong di depan
rumahku. Benar saja, beberapa saat setelah mobil bak itu parkir, sebuah mobil
berisikan satu keluarga menyusul dibelakangnya.
Karena mungkin aku sedang
berkonsentrasi dengan pekerjaanku kali ini aku kurang memperhatikan orang-orang
yang keluar dari mobil itu. Yang aku lihat seorang laki-laki dan perempuan
setengah baya yang aku pastikan mereka suami istri beserta seorang anak
perempuan kecil yang aku tafsir berusia 12 tahun. Aku pun menduga ketiganya
adalah penghuni rumah kosong tersebut.
Namun tak kusangka, salah satu
pintu mobil itu kembali terbuka dan keluarlah seorang gadis mungil berponi
dengan paras manis serta cantik yang langsung memaksaku memandanginya untuk
beberapa saat.
“ siapa gadis itu, wajahnya sangat
cantik, manis dan polos” , pikirku dalam hati ini.
Saat aku masih tertegun dengan
pemandangan di depanku, tiba-tiba ia menatapku dan mata kami pun saling
bertemu. Aku dibuat terkejut dan menjatuhkan sapu yang sedari tadi aku pegang
namun tak aku pakai. Dia sempat menyunggingkan senyum manisnya ke arahku dan
membuatku makin salah tingkah.Setelah kejadian itu, ia masuk ke dalam rumah dan
aku pun melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda.
Ketika sedang sarapan bersama
ayah, ibu, dan adik perempuanku, aku masih terus memikirkan kejadian pagi tadi
serta gadis manis berponi yang aku temui. Sampai suatu saat
“woyy!!! Bengong aja kak, itu
makanannya kok dianggurin” celetuk adikku yang menyadarkanku dari lamunan.
“apaan sih, ngagetin aja deh,
siapa juga yang bengong. Ngawur kamu” jawabku.
“yeee..orang dari tadi kakak
bengong, nih makanan di piringku sudah habis punya kakak masih utuh, lihat
punya ayah sama ibu udah mau habis” kata adikku
Aku yang kaget melihat ke piring
ayah dan ibu, dan benar saja piring mereka sudah hampir habis isinya.
“waduh lama juga aku ngelamun”
pikirku dalam hati.
“tuh kan ngelamun lagi, ati-ati
kesambet kak pagi-pagi” kata adikku lagi sambil pergi meninggalkan meja makan.
“sialan kamu dek” maki ku geram
pada adikku.
“udah-udah buruan habisin sarapan
kamu entar keburu dingin gak enak” kata ibuku yang juga beranjak dari meja
makan.
“iya buk, bentar” jawabku.
Ayah juga rupanya mulai beranjak
dari meja makan dan pergi ke ruang keluarga untuk nonton TV. Aku pun
melanjutkan makanku yang sempat tertunda. Setelah menyelesaikan makan, aku
pergi ke kamar ku di lantai 2 untuk membereskan isi kamar yang berantakan.
Kebetulan jendela kamarku tepat
mengarah ke jendela kamar di rumah kosong yang baru saja di tempati tetangga
yang baru pindah tadi pagi. Saat sedang memandangi jendela rumah di depanku,
aku terkejut karena seseorang membuka gorden jendela rumah tersebut. Yang makin
membuatku terkejut ternya yang membuka gorden itu adalah gadis cantik mungil
berponi yang aku pandangi tadi pagi.
Dan lagi-lagi pandangan mata kami
saling bertemu untuk ke dua kalinya. Aku pun salah tingkah kembali dan
berpura-pura melanjutkan membereskan kamarku. Ku lihat sekilas ia tampak
tertawa kecil dan ku lihat rambut poninya bergoyang tertiup angin.
“Oh tidak,, dia cantik sekali.
Poninya yang tertiup angin menambah daya tariknya” pikirku kembali dalam hati.
Setelah kulihat lagi, ia membuka
jendela kamarnya dan pergi keluar serta menutup pintu kamar itu. Aku beruntung
jika ia menempati kamar itu jadi aku bisa memandanginya setiap pagi saat ia
membuka jendela dan malam hari saat ia menutupnya. Dan entah kenapa aku senyum
sendiri saat itu. Aku berfikir aku bisa kenalan dengannya atau setidaknya bisa
tahu siapa namanya.
Siang hari nya, panas yang
menyengat. Aku iseng untuk menyiram jalan depan rumahku supaya tidak berdebu
dan tidak terlihat kering halamanku. Saat itu (lagi-lagi) aku melihat ia sedang
bermain bersama adiknya. Aku lihat ia sedang bermain lempar tangkap bola dengan
adik nya.
Suatu ketika bola yang dilempar
adiknya gagal ia tangkap dengan sempurna. Bola itu bergulir ke halaman rumahku
dan aku mengambilnya. Dia yang melihat hal itu langsung menghampiriku untuk mengambil
bola tersebut.
“Halo kak, selamat siang” sapanya.
“Ha..ha..halo juga,, baru pindah
kemari ya?” aku menjawab dengan gugub.
“Iya kak, perkenalkan namaku Cindy
Yuvia” katanya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Halo Cindy, kenalin juga namaku Wasky”
jawabku meraih uluran tangannya.
Aku menjabat tangannya dengan erat
sambil menatap wajahnya. Dan ia pun juga menatap ke arahku.
“Kak..??” celetuk cindy pelan
namun membuatku terkejut dan melepaskan tangannya.
“Eh,, iya maaf Cindy” kataku
sambil menahan rasa malu.
“Gak papa kak, iiihhh kakak kenapa
kok wajahnya merah?” tanyanya dengan suara yang imut.
“Eh???siapa yang wajahnya merah,
ini cuma karena panas matahari tau” jawabku ngeles.
“iihh boong..pasti karena
terpesona ya sama aku, hayooo ngaku” katanya sambil menunjuk wajahku, lagi-lagi
dengan suaranya yang imut.
“yeee gak kok, kepedean nih Cindy”
kataku. Walaupun dalam hati aku mengaku kalau memang terpesona sejak pagi tadi.
“Panggilnya Yuvi aja kak biar
lebih enak, oh gitu, mungkin aku kepedean kali ya hihi” ia tertawa
“Boleh aku minta bolanya kak?,
kasihan adikku dia nungguin tuh” tanyanya sambil tangannya meminta bola.
“Oh iya ya..maaf-maaf lupa hehe”
jawabku cengengesan.
“Iya kak gak papa kok, aku juga
keasyikan sih kenalan sama kakak” jawabnya.
“Ya udah ya kak, aku pulang dulu,
nanti sore kita ketemu lagi ya kak” katanya.
“Iya sampai jumpa cindy eh yuvi”
jawabku saat ia berbalik dan pulang ke rumahnya.
Aku tertegun lagi, dan memikirkan
kata-katanya yang terakhir kalau ia mau menemuiku nanti sore. Apa aku
bermimpi???
Saat sore hari ketika aku sedang
main game dengan komputerku, Ibuku memanggilku ia mengatakan kalau ada
seseorang yang mencariku. Benar saja, saat aku keluar membuka pintu, Yuvi sudah
di depan pintu dengan sepeda yang terparkir didepan gerbang rumahku.
“Kak Wasky lagi sibuk ya?”
tanyanya padaku yang masih tidak percaya.
“Eh nggak kok, tadi Cuma main game
aja di kamar, kenapa?” jawabku
“Sebenarnya aku mau minta kakak
buat nemenin aku main sepeda keliling kompleks sih, kakak mau gak?” tanyanya
lagi dengan suara imutnya.
“Eh gimana ya, lagi seru sih main
game nya” jawabku memancing.
“Iiihhh kakak tega ya sama aku,
aku kan belum tahu daerah sini, aku takut kesasar kak” jawabnya cemberut dengan
suara loli nya.
Oh tidaaakkkk, suara nya membuatku
bingung untuk menjawab apa dan bibirku pun seraya mengucapkan.
“Hehehe okelah dedek yupi, kakak
temenin kamu kok, tapi ada syaratnya” kataku.
“Makasih kakak, eh apaan sih, kok
pakai syarat-syaratan segala” jawabnya senang bercampur bingung.
“Kan diujung gang kompleks kita
ada warung bakso yang enak tuh, kamu traktir kakak ya, gimana?” kataku padanya.
“Haduuuhhh kak, kirain syaratnya
apaan, cuma itu sih kecil kak, boleh nanti aku traktir kak” jawabnya menerima
syaratku.
“Baik lah dek, tunggu bentar ya
kakak ganti baju dulu sama keluarin sepedanya” jawabku sambil masuk kedalam
rumah.
“Buruan ya kak !!” katanya
keras-keras.
Setelah ganti baju dan
mengeluarkan sepeda dari garasi, aku dan yuvi pun bersepeda berdua berkeliling
kompleks rumah. Sepanjang perjalanan, poni Yuvi yang tertiup angin membuatku
tersenyum sendiri dan membuat Yuvi bingung dengan tingkahku.
Tidak terasa sudah hampir 45 menit
aku dan yuvi bersepeda berdua dan akhirnya seperti syarat yang aku berikan, aku
dan yuvi berhenti di warung bakso ujung gang kompleks.
“Bang, bakso nya 2 mangkok ya gak
apakai lama ya” kata Yuvi ke penjual baksonya.
“Siap neng, oh iya minumnya apa?”
tanya abang tukang baksonya.
“Aku es teh manis, kalo kakak
apa?” tanya Yuvi sambil berpaling ke arahku.
“Hmmm..aku es teh tawar aja”
kataku
“Lhoohh kok tawar kak?gak es teh
manis?” tanyanya bingung.
“Gak, kan di depanku udah ada yang
lebih manis” jawabku dengan sedikit gombalan.
“iiihhhh kakak ih bisa aja, bang
es teh manisnya 2 juga ya” kata Yuvi dengan wajah merah merona yang menambah
manis parasnya.
“hahahahaha” aku pun tertawa
sedangkan Yuvi masih malu-malu.
Singkat cerita selama makan bakso
berdua aku banyak menanyakan tentang apa dirinya. Dan aku pun tahu kalau dia
ternyata masih kelas 10 SMK.
“Aku kelas 10 SMK kak, udah gede
kan bukan anak kecil lagi, inget ya kak aku SMK bukan STM lhoh..” kata dia
dengan lucu.
“Kalau kakak?udah kuliah kan?
tanyanya.
“Kok tahu kalo kakak udah kuliah?”
tanyaku bingung.
“Iya wajah kakak keliatan tua sih
hihihi” jawab dia dengan cekikikan.
“Ah sialan kamu dek, awas ya nanti
kalo ngajakin sepedaan gak aku temenin” jawabku cemberut.
“iihhhh kakak, gitu aja ngambek
nih, gak asik gak asik” katanya menghiburku sambil iseng mentowel pipiku dengan
telunjuknya.
“bodo amat”jawabku masih pura-pura
marah
“hahahaha, lucu nih kakak”
jawabnya dengan ketawa.
Setelah selesai acara makan berdua
itu, aku dan yuvi memutuskan untuk pulang karena ku lihat hari semakin gelap.
“Ya udah yuk pulang udah gelap
nih” ajakku padanya.
“Ayo, kak..nanti dicariin mamah
lagi, kan tadi aku pamitnya Cuma sebentar” jawab dia kalem.
Selama perjalanan pulang pun kami
berdua lalui dengan bercanda berdua, saling ledek dan pokoknya menurutku itu
adalah hari paling spesial dari hari-hari spesial yang pernah aku lalui.
Akhirnya kamipun tiba di depan rumah masing-masing.
“Makasih ya kak udah nemenin, aku
pulang dulu” kata yuvi sambil melambaikan tangannya dan masuk ke halaman
rumahnya.
“Iya sama-sama, makasih juga udah
traktir” jawabku singkat
“dadaaaaaahhhh kakak” ia masih melambaikan
tangannya. Saat itu aku hanya membalas dengan melambaikan tanganku padanya.
Setelah hari itu aku banyak lalui
hariku dengan Yuvi, entah dia sadar atau tidak aku sebenarnya menaruh perasaan
cinta padanya. Namun aku tidak berani mengungkapkannya karena di mataku ia
gadis berponi yang sangat lucu dan sempurna. Hingga suatu ketika di suatu malam
dia tiba-tiba datang kerumahku mengetuk pintu dan aku membukanya. Aku melihat
dia bawa buku pelajaran.
“Kak boleh gak aku malam ini
belajar disini, di rumahku sepi, papa mama sama adikku lagi pergi semua, boleh
ya?” tanyanya
“Oh yaudah gak apa-apa kok, masuk
aja di dalem juga adikku lagi belajar tuh” jawabku
Akhirnya Yuvi masuk dan ia duduk
belajar di ruang tamu. Aku temani dia sambil baca komik yang baru aku beli. Ku
lihat dia sedang sibuk mengerjakan beberapa soal akuntansi karena di sekolahnya
ia masuk jurusan akuntansi.
“Eh ada Yuvi kok gak dibikinin
minum sih kak” tanya ibuku mengagetkanku. Dan aku sadar aku belum buatkan minum
untuknya.
“Gak apa-apa kok tante, kak wasky
nya tuh lagi sibuk baca komik, dia lupa kali kalo ada aku” jawabnya sambil
tersenyum melirik ke arahku.
“Yeeee pake ngadu segala lagi
huuu, bentar ya aku ambilin minum” kataku seraya pergi meninggalkan ibu dan
Yuvi. Padahal dalam hati aku berfikir mana bisa aku sibuk baca komik padahal di
depanku ada gadis cantik seperti dia.
“Ya udah ya tante tinggal dulu,
anggap aja rumah sendiri ya” kata ibuku.
“Iya tante” jawab Yuvi polos.
Beberapa saat kemudia aku sudah
kembali dengan 2 gelas es sirup yang langsung aku sodorkan ke Yuvi.
“Nih diminum ya, maaf kakak lupa
tadi hehe” kataku.
“Iiiih kakak masa bisa lupa
padahal ada aku disini” jawab dia sambil tersenyum. Dan kipas angin di
sebelahku membuat poni Yuvi kembali bergoyang lucu. Ku lihat dia meminum es
sirup yang aku berikan padanya.
“Dek yuvi gimana sekolahnya?” aku
iseng bertanya untuk meredakan suasana.
“Lancar kok kak sekolahku, tapi 2
minggu lagi udah UKK, doain Yuvi ya kak” jawab dia.
“Oh gitu semangat ya jangan
males-malesan belajarnya” kataku lagi.
“Siap” jawab dia singkat.
Sebenarnya aku berfikir momen
seperti inilah bisa aku manfaatkan untuk mengungkapkan perasaanku yang
sebenarnya ke Yuvi. Namun kembali lagi aku tak mampu untuk melakukan itu. Aku
mecoba untuk mengumpulkan seluruh keberanianku untuk mengungkapkannya dan malam
itu juga aku bertekat mengatakannya, karena aku pikir buat apa dipendam terlalu
lama. Toh nanti suatu saat aku pasti mengatakannya juga. Apapun nanti jawaban
yang ia berikan aku sudah siap.
“Eheemm Yuvi...?” kataku pelan.
“Ada apa kak, kok panggilnya
pelan?” tanyanya bingung.
“Sebenarnya ada yang mau kakak
omongin sama kamu, tapi kamu jangan marah ya” kataku lagi. Hal ini seperti yang
sering aku lihat di FTV-FTV dimana seorang laki-laki akan mengungkapkan
perasaannya kepada orang yang ia cinta.
“Ngomong apa kak, jangan bikin
Yuvi penasaran deh” jawabnya makin bingung.
“Sebenarnya kakak.....” kataku
tersendat
Mata Yuvi terus saja menatapku
dengan pandangan bingung.
“Jujur ya , sebenarnya kakak suka
sama kamu Yuvi” kataku padanya sambil menatap wajah polosnya.
Wajah Yuvi yang semula cerah ku
lihat ia menundukkan wajahnya dan terlihat malu-malu. Dan malam itu aku resmi
menyatakan perasaan ku ke Yuvi dan menunggu bagaimana responnya
“Iya yuv, kakak suka sama kamu,
kakak harap kamu mau jadi pacar kakak, bukan adik” kataku menegaskan.
“Kita sudah hampir satu bulan
bersama, bersepeda berdua tiap sore, makan berdua dan itu membuat perasaan
kakak sama kamu berubah jadi perasaan sayang ke kamu.” Kataku lagi.
Ku lihat Yuvi mengangkat wajahnya
dan menatapku dengan sebuah senyuman manis yang tersungging di ujung bibirnya.
Poni nya kembali terlihat bergoyang kesana-kemari tertiup angin dari kipas.
“Kak, sebenarnya Yuvi juga ada
perasaan sama kakak, tapi Yuvi gak bisa kalau jadi pacar kakak” jawab dia
membuyarkan angan-anganku tentang aku dan dia.
“Kenapa Yuv?Kenapa?” tanyaku ke
Yuvi dengan perasaan yang entah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Sebenarnya kak, kakak harus tahu.
Kakak tahu JKT48? tanyanya.
“JKT48? Iya kakak tahu kenapa
dengan JKT48? jawabku.
“Aku adalah salah satu bagian dari
tim trainee generasi ke 2 dari JKT48 kak, dan di JKT48 ada golden rules yang
melarang setiap membernya menjalin hubungan seperti pacar selama masih menjadi
member di JKT48, kakak tahu kan” kata Yuvi.
Saat itu aku terkejut bukan main,
ternyata Yuvia gadis cantik, mungil dengan poni lucu itu adalah seorang member
JKT48 yang sebenarnya aku termasuk fans dari JKT48. Aku benar-benar tak habis
pikir mendengar jawaban dari Yuvi.
“Kakak jangan marah ya kak” kata
dia dengan wajah sedih.
“Enggak kok santai aja kakak gak
marah kok, kakak sekarang jadi bangga sama kamu dek, ternyata yang selama satu
bulan ini sering jalan berdua, bersepeda berdua dan makan berdua adalah seorang
idol” jawabku padanya dengan sedikit tersenyum.
“Iiiiihhhhh kakak, jangan panggil
aku idol kak, aku bukan idol” kata dia dengan wajah lucu dan suara tinggi ciri
khasnya.
“Tapi bagi kakak kamu idol di hati
kakak kok hehe” jawabku cengengesan.
“Aaahh kakak boong, kakak bisa
aja” kata Yuvi yang langsung disambut tawa kita berdua yang pecah.
Ku lihat jam dinding di ruang
tamuku menunjukkan pukul 8 malam. Aku ingat kalau aku belum makan malam.
“Kakak lapar nih, kamu udah makan
malam belum?” tanyaku
“Eh iya aku lupa, aku juga belum
mam kak, mam bareng yuk..aku traktir di warung nasi goreng di depan yuk kak”
ajaknya
“Eitttsss gak bisa, kali ini
giliran kakak yang traktir kamu, kan kemarin udah sekarang gantian” jawabku.
“Ayo deh kalo begitu, bentar ya
kak aku beresin buku-buku aku dulu. Aku titip bukunya dirumah kakak ya” kata
Yuvi
“Ya udah taruh aja bukunya disitu,
nanti kalo abis makan bisa diambil atau besok pagi aku anterin bukunya ke
rumah” jawabku lagi
Akhirnya aku dan yuvi pun berdua
melewati malam dengan makan nasi goreng berdua. Walaupun tidak bisa memiliki
dia untuk seorang kekasih tapi aku sudah cukup puas dengan dia berada
disampingku sekarang, besok, dan selamanya.

